Peringatan Hari Ginjal Sedunia (Kidney Day) penuh makna simbolik dan tujuan mulia. Sebab, mengingatkan dan memberikan kesadaran kepada masyarakat luas akan bahaya penyakit ginjal. Selain itu untuk mencerdaskan masyarakat agar memiliki benteng dalam mencegah penyakit ginjal, dimana pengobatannya membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama, serta menghabiskan dana sangat besar.
Demikian disampaikan Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi ketika menghadiri Peringatan Hari Ginjal Sedunia di Lapangan Benteng Medan, Kamis (12/3). Acara ini turut dihadiri Kepala BPJS Divisi Regional Sumut-Aceh Dr Fery Aulia, Ketua Pernerfri Sumut-Aceh Prof DR Harus rasyid Lubis SPPD KGH, Dandim 0201/BS Letkol Kav Setiawan Arismunandar, direktur rumah sakit negeri dan swasta se-Kota Medan serta para pasien dialisys se-Sumatera Utara.
"Kita ketahui bersama penyakit ginjal tidak mengenal kelompok usia, strata sosial dan ekonomi. Bisa saja penderita penyakit ginjal adalah keluarga, handai taulan serta tetangga sendiri. Sebab salah satu penyebabnya akibat perubahan pola perilaku serta gaya hidup", kata Wali Kota.
Mantan Sekda Kota Medan selanjutnya mengungkapkan, data menunjukkan jumlah penderita hipertensi dan diabetes semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kedua penyakit ini yang merupakan salah satu faktor penyebab terbanyak penyakit ginjal kronik sehingga membuat penderitanya harus menjalani cuci darah (dialysis).
Dalam beberapa dekade terakhir ini di seluruh dunia jelas Wali Kota, jumlah angka penderita dialysis terus meningkat secara progresif. Hal ini juga menjadi salah satu factor penyumbang terbesar pengeluaran biaya kesehatan. “Jangankan negara kita, negara maju sekalipun kewalahan dalam membiayainya,” ungkapnya.
Untuk itulah Wali Kota mengaku sangat bersyukur dengan berkembangnya unit-unit dialysis di Kota Medan belakangan ini. Dengan demikian masyarakat memiliki alternative untuk fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya penyakit ginjal. Di samping itu memberikan kesan bahwa iklim investasi di Kota Medan cukup baik.
Dengan adanya unit-unit dialysis ini, Wali kota berharap angka prevalensi dan insidensi penderita penyakit ginjal, khususnya di Kota Medan dapat menurun. Selain itu Wali Kota mengajak semua untuk meningkatkan lagi upaya-upaya preventif dan promotif, agar dapat menangani penyakit ginjal ini di hulu, guna mencegah banyaknya penderita ginjal yang harus diobati di hilir yakni tempat-tempat pelayanan cuci darah.
Lalu Wali Kota mengajak semua untuk menjaga kesehatan ginjalnya masing-masing dan selalu mewaspadai penyakit ginjal. “Ingat, jika ginjal kita sehat, semua akan sehat (kindney health for all). Banyaklah minum air putih, sekurang-kurangnya 8 gelas sehari dan jangan lupa berolahraga. Mari kita budayakan pola hidup sehat untuk menyongsong kehidupan yang lebih berkualitas pada masa mendatang,”harapnya.
Sebelumnya Ketua Pernefri Sumut-Aceh Prof Dr Harun Rasyid Lubis SPPD KGH mengungkapkan, penderita ginjal yang harus cuci darah meningkat 10 persen setiap tahunnya. Kondisi ini terjadi akibat rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan ginjalnya. “Peningkatan 10 persen ini saya nilai cukup tinggi,” jelas Harun.
Penyebab utama penyakit ginjal ini kata harun, akibat hipertensi dan diabetes (penyakit gula). Khusus di Indonesia, termasuk Kota Medan penyebab utamanya akibat hipertensi. Karea itu itulah dia mengingatkan masyarakat agar senantiasa rutin memeriksakan hipertensinya. “Jika ada hipertensi, cepat diobati dan rajin makan obat sampai sembuh,” paparnya..
Kemudian Harun mengungkapkan, dokter maupun perawat yang ahli menangani penyakit ginjal saat ini masih kurang. Untuk mengatasi ini, maka didirikanlah tempat cuci darah di daerah-daerah dan dapat dipantau langsung melalui video conference. Dengan demikian jika dilakukan pencucian darah di daerah seperti Nias, Pematang Siantar dan Sipirok dapat dipantau langsung.
“Kita sudah sampaikan hal ini kepada Wali Kota dan beliau pun mendukungnya. Selanjutnya kita akan sampaikan hal ini kepada kepala daerah lainnya, sehingga mereka dapat mendukungnya,” ujarnya. (red)