Kamis, 23 Apr 2026

Menjaga Lahan Jangan Sampai Terbakar, Warga Muara Batang Toru Diberi Dana Rp1,125 Milyar

Tapsel (utamanews.com)
Oleh: Putra Senin, 16 Nov 2020 14:36
Penandatanganan kontrak antara masyarakat dengan Wetlands International Indonesia, untuk menjaga lahan mereka dari potensi kebakaran dan banjir di Muara Batang Toru, Tapanuli Selatan.
 Istimewa

Penandatanganan kontrak antara masyarakat dengan Wetlands International Indonesia, untuk menjaga lahan mereka dari potensi kebakaran dan banjir di Muara Batang Toru, Tapanuli Selatan.

Ismaini Boru Munthe, wanita berusia 40 tahun ini terlihat sedih. Namun kesedihannya karena bahagia. Pasalnya, ia dan warga lainnya tidak menyangka akan mendapat dana yang bisa digunakan untuk meningkatkan ekonomi keluarganya.

"Saya dan warga lainnya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak-bapak dari Yayasan Lahan Basah/Wetlands Internasional Indonesia. Atas pendanaan yang akan diberikan kepada kami dan mengajari kami untuk menjaga lingkungan kami," ujar Ismaini saat memberikan testimoninya, di Kelurahan Muara Manompas, Kecamatan Muara Batang Toru, akhir Oktober 2020 lalu.

Ismaini mengatakan, baru kali ini ada pihak yang peduli pada lingkungan mereka dan mau pula memberikan dana. Meskipun awalnya sebagai bentuk pinjaman, namun ia akan berusaha untuk menjaga lahan miliknya agar dana yang akan diberikan bisa berubah menjadi hibah.

"Harapannya seperti itu, dan ini sebagai penyemangat dan pendorong bagi kami untuk lebih peduli kepada lingkungan kami," kata Ismaini sumringah.
Bagian Pemberdayaan Masyarakat dari Wetlands Internasional Indonesia (NGO), Didi Fitrianto, Senin (16/11/2020), mengatakan, Yayasan Lahan Basah (YLBA) atau Wetlands Internasional Indonesia memilih Kelurahan Muara Manompas dan sekitarnya yang berada di Kecamatan Muara Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara sebagai lokasi program proyek mereka, setelah melakukan kajian. Karena, di wilayah itu memiliki lahan basah (gambut) yang cukup luas dan sering kali terjadi bencana kebakaran maupun banjir.

"Kami memilih lokasi untuk program proyek pemberdayaan masyarakat disini, setelah melakukan kajian. Dan di daerah ini memang sering kali terjadi kebakaran lahan juga banjir," kata Didi.

Didi menyampaikan, di daerah itu, baru-baru ini telah terjadi kebakaran lahan diperkirakan mencapai 60 hektare yang berada di kawasan lahan basah. Dan kehadiran mereka, untuk memberikan edukasi bagi masyarakat agar bisa menjaga lahannya dari bencana tersebut.

"Dan sangat tidak mungkin, kami hadir memberikan edukasi, mengajak warga menjaga lahan dan lingkungan mereka, namun perut mereka masih 'lapar'. Untuk itu, kami hadir memberikan program yang bisa meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat setempat," ucap Didi.
produk kecantikan untuk pria wanita

Didi mengatakan, adapun program yang diberikan yaitu adaptasi, mitigasi melalui konservasi dan penghidupan berkelanjutan ekosistem gambut dan mangrove indonesia (PME), dan program EU Devco/ECO DRR (Peningkatan Ketangguhan Masyarakat melalui Ecosystem-based Disaster Risk Reduction).

"Tujuannya, agar masyarakat bisa mandiri menjaga dan mengurangi risiko bencana di daerahnya, juga sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan hidup mereka," ujar Didi.

Didi menerangkan, untuk program Devco, sudah ada 15 kelompok masyarakat (per kelompok 10 orang) yang dibentuk. Setiap kelompok, rata-rata memiliki lahan basah seluas 8 sampai 10 hektare.

iklan peninggi badan
Lahan-lahan tersebut, akan dijaga selama 14 bulan. Tidak boleh sampai terjadi kebakaran, apalagi membuka lahan dengan cara membakar. Juga akan ditanami dengan tanaman-tanaman lahan basah seperti jelutung, rumbia dan pakkat (rotan).

"Tanaman yang ditanam juga memiliki nilai ekonomis, seperti jelutung, kayunya bisa dipakai sebagai bahan baku membuat pensil, dan getahnya bisa untuk bahan baku permen karet dan alat kontrasepsi. Jadi memang bernilai," ucap Didi.

Setiap kelompok, mendapat dana dengan bentuk pinjaman sebesar Rp75 juta. Dan dengan dana tersebut, masyarakat bisa menggunakannya untuk meningkatkan kehidupan mereka dengan membuka usaha kecil dan kegiatan ekonomi lainnya.

"Nah, jika selama satu tahun, lahan yang mereka miliki dijaga dan tidak ada pernah terjadi kebakaran, maka dana yang mulanya sebagai bentuk pinjaman akan berubah menjadi hibah. Begitu juga dengan tanaman yang ditanam di atas lahan tersebut harus tumbuh 75 persen," ujar Didi.

Didi menyampaikan, total dana untuk satu program itu mencapai Rp1,125 milyar. Dan akan ada juga program lainnya dengan jumlah yang sama, namun dikuatkan untuk mitigasi terhadap bencana.

"Setelah ini nanti akan ada lagi program PME, itu ada 20 kelompok namun lebih kepada mitigasi. Seperti membuat sekat kanal, dan membentuk tim peduli api serta banjir," ungkap Didi.

Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat, Vernando M Aruan mengatakan, pihaknya juga melakukan budidaya ikan lele di lahan gambut masyarakat yang sudah disekat kanal. Dan hasilnya juga untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Wetlands hadir untuk mengimplementasikan program restorasi gambut berbasiskan masyarakat, untuk pengurangan risiko bencana dan mitigasi perubahan iklim di Muara Manompas, dan Desa Terapung Raya, Muara Batang Toru. Karena, melihat kondisi kerentanan bencana juga sebagai upaya penyadartahuan bagi masyarakat.

"Apalagi pada bulan ini masuk musim penghujan dan rawan terjadi banjir ditambah lagi fenomena La Nina yang akan meningkatkan curah hujan. Dan kami sudah memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mencegahnya," ucap Aruan.


Kurang Suport Pemerintah Daerah

Aruan menyebut, kegiatan yang mereka lakukan tersebut murni tanpa pamrih dan tidak mencari keuntungan. Namun mereka menyesalkan, kurangnya support dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan yang notabene sebagai pihak yang seharusnya terlibat.

"Memang ada sedikit kekecewaan. Karena setiap kita adakan kegiatan, pihak Pemkab selalu jarang hadir. Padahal kegiatan ini sangat berguna untuk daerah lainnya," ujar Aruan.

Aruan berharap, dengan kegiatan yang sudah mereka lakukan selama setahun ini bisa berdampak besar bagi kesejahteraan masyarakat setempat dan memberikan pengetahuan untuk lebih peduli kepada lingkungan.

"Targetnya, daerah yang ada ini bisa menjadi daerah yang mandiri, masyarakatnya peduli terhadap risiko bencana, semakin sejahtera dan bisa menjadi contoh bagi desa-desa dan daerah lainnya yang ada di Indonesia, khususnya di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara", pungkas Aruan.

Editor: Windra
Tag:
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️