Sabtu, 02 Mei 2026

Pimpinan Ponpes di Labusel cabuli 3 santri, sebelumnya sempat damai dengan 17 korban

Labuhanbatu Selatan (utamanews.com)
Oleh: Dito Jumat, 11 Feb 2022 17:11
Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu, AKP Rusdi Marzuki
 Istimewa

Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu, AKP Rusdi Marzuki

Kepala sekolah tingkat aliyah (SMA) pada sebuah pondok pesantren di Labuhanbatu Selatan (Labusel), Sumatera Utara (Sumut), ditangkap polisi tadi malam.

Dia ditangkap karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap 3 santrinya.

"Ya tadi malam (Kamis 10/2/2022) yang bersangkutan telah kita amankan dari kediaman keluarganya di Labusel," kata Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu, AKP Rusdi Marzuki kepada wartawan Jumat (11/2/2022).

Rusdi mengatakan, tersangka berinisial AAD (53), warga Sei Kanan, Labusel. 
Dia ini merupakan kepala sekolah tingkat aliyah di Ponpes.

Korban pelecehan kepala sekolah ini ialah 3 santri pria yang mondok di pesantren tersebut. Ketiganya merupakan warga Padang Lawas Utara (Paluta), dan masing-masing berumur 14, 16 dan 17 tahun.

"Korbannya 3 santri pria. Satu orang tingkat tsanawiyah (SMP) dan dua orang tingkat aliyah. Mereka ini ada yang sekali (dilecehkan) dan ada juga yang lebih dari sekali. Terakhir kali dilakukannya pada 14 Januari lalu," ujar Rusdi.

Rusdi mengungkapkan, sebelum melakukan pelecehan, tersangka terlebih dahulu mengajak korbannya pergi ke ladang (kebun) sawitnya. 
produk kecantikan untuk pria wanita

Di ladang itulah kemudian tersangka melakukan aksi pelecehannya.

Karena itu, selain mengamankan tersangka, polisi juga menyita sebuah sepeda motor milik tersangka, sebagai barang bukti. Dengan sepeda motor inilah tersangka kerap membonceng korbannya saat menuju ke ladangnya

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Labusel, Ilham Daulay, mengatakan, kasus seperti ini sebenarnya sudah pernah dilakukan tersangka (AAD) pada 2019 silam. Ketika itu ada 17 orang yang mengaku telah menjadi korban AAD.

iklan peninggi badan
Namun, kata Ilham, meski LPA Labusel telah meminta agar keluarga korban tetap melanjutkan kasus ini, AAD dan keluarganya berhasil membujuk keluarga korban. Akhirnya korban dan AAD sepakat berdamai, sehingga kasus itu menguap begitu saja.

"Jadi pelecehan yang dilakukan tersangka ini ialah dia memegang-megang alat kelamin santri pria itu. Dimain-mainkannya lah hingga mereka orgasme," kata Ilham.

Kemungkinan karena itulah, ke-17 korban sebelumnya sepakat berdamai dengan tersangka. Dimana pelecehannya bukan merupakan bentuk pemerkosaan.

"Itulah maka sejak awal kita terus kawal, terus mendampingi korban yang sekarang ini. Agar proses hukumnya terus berjalan," ucapnya.

Dari informasi yang dikumpulkan, meski dari gestur tubuhnya terlihat seperti ada sifat feminim, tersangka AAD merupakan ayah dari 5 orang anak. 

Sama seperti dirinya, Istri AAD juga bekerja di ponpes itu.

Meski menjabat sebagai kepala sekolah, awalnya AAD sebenarnya bukan seorang guru. Dia merupakan ASN pada Kementerian Agama yang ditugaskan di pondok pesantren. 

Tersangka disebutkan sudah 18 tahun menjadi kepala sekolah di pesantren tersebut.
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️