
R br S, harus berurusan dengan polisi dan terancam bakal lama di penjara. Pasalnya warga Nagori Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan Kabupaten Simalungun ini tega menghabisi nyawa bayi yang baru saja dilahirkannya. Kejinya lagi, wanita berusia 42 tahun ini membunuh bayi malang ini dengan menyumpal mulutnya dengan celana dalam.
Perbuatan tercela itu terungkap setelah warga menemukan sesosok mayat bayi laki-laki di perladangan kebun kelapa sawit milik pelaku pada Rabu (31/5/2017) sekitar pukul 17.00 WIB.
Informasi dihimpun di Polsek Tanah Jawa, wanita ini mengatakan bahwa pria yang menanam benih di tubuhnya tersebut berinisial DS, warga Desa Huta Bagasan, Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Asahan.
DS diketahuinya adalah duda dan profesi sehari-harinya sebagai anggota lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Diceritakannya, pertama kali ia kenal dengan DS lewat telepon seluler. Saat itu ia sedang berada di Pasar Horas Pematangsiantar. Tiba-tiba telepon selulernya berdering dan seorang pria yang tidak ia kenal menghubungi. Setelah diangkat, pria tersebut mengatakan ingin bertemu dengannya di pusat perbelanjaan Ramayana.
Sejak saat itu, mereka sering bertemu di Pasar Horas. Selanjutnya mereka naik angkot CV Sepakat menuju pemandian Karang Anyar. Di tempat itu, mereka selalu menyewa kamar untuk beristirahat. Bahkan lebih dari itu, mereka selalu melakukan hubungan layaknya suami isteri.
Akibat hubungan terlarang itu, R br S akhirnya hamil. Janin dalam kandungan pun semakin membesar dan tanpa terasa sudah berusia 5 bulan. Ketika ditanyakan kepada pria idamannya itu, DS selalu menjawab agar janin itu digugurkan saja. Meski begitu, DS tak memberikan solusi, termasuk soal dana untuk aborsi.
Di sisi lain, R br S juga takut akan risiko saat menggugurkan kandungannya. Kemudian ia pun membuang niat aborsi itu jauh-jauh.
"Sejak bulan April hubungan kami sudah kurang harmonis. Ada kesan bahwa dia (DS, red) mulai mengelak. Apalagi ada isu bahwa DS menjalin hubungan lagi dengan seorang janda berinisial M br M yang tinggal di Bandar Pasir Mandoge," akunya.
Lantas sejak saat itu, komunikasi di antara mereka pun putus. Sementara kandungannya semakin membesar. "Agar anak-anak tidak curiga, aku pun memakai baju yang gembor (longgar, red) dan bercelana ketat," tukasnya.
Namun saat akan melahirkan itu, R br S mengaku tidak merasakan tanda-tanda seperti orang yang akan melahirkan. Ia tetap beraktivitas ke ladang dan tiba-tiba perutnya mulas hingga akhirnya janinnya keluar.
Seperti diberitakan sebelumnya, karena tidak sanggup menanggung malu, R br S tega menyiksa bayinya. Dua hari setelah dilahirkan, dia pun membunuh lalu membuang jenazah bayi itu ke kebun sawit.