Sabtu, 20 Jul 2024 04:34
busana muslimah

Elit PDIP, Jangan Terlalu Emosional: Dengan atau Tanpa Jokowi, Hattrick!

Medan (utamanews.com)

Oleh: Sutrisno Pangaribuan

Selasa, 24 Okt 2023 19:04

Istimewa
Sutrisno Pangaribuan
flash sale baju bayi
Langkah politik Gibran Rakabuming Raka (Gibran) maju sebagai bakal calon wakil presiden (bacawapres) mendampingi bakal calon presiden (bacapres) Prabowo Subianto (Prabowo) bukanlah kejadian luar biasa. Gibran mengikuti jejak ayahnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi). Awalnya, PDIP mendorong Jokowi, yang masih menjabat sebagai wali kota Solo, untuk maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Setelah itu, PDIP kembali mendorong Jokowi untuk maju sebagai calon presiden meski baru dua tahun menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. PDIP berperan sebagai pelopor dan fasilitator dalam proses perjalanan politik Jokowi.

Keputusan Gibran untuk menjadi bacawapres Prabowo bukanlah pengkhianatan, juga bukan tindakan oportunis. Gibran hanya menjalani proses yang lebih cepat daripada yang ditempuh oleh Jokowi. Gibran ingin menunjukkan bahwa anak harus menjadi lebih baik dan lebih cepat dari ayahnya. Sebagai anak seorang presiden (Gibran), ia tidak boleh kalah dengan anak orang biasa (Jokowi). Jika Jokowi, seorang anak biasa, mampu mengalahkan mantan menantu presiden, yaitu Prabowo, dua kali, maka Gibran (anak seorang presiden) memilih untuk menjadi penentu kemenangan politik bagi Prabowo (mantan menantu presiden).

Gibran menjadi satu-satunya harapan bagi Prabowo untuk mencapai mimpinya sebagai pemimpin Asia. Gibran percaya diri dalam kapasitasnya sebagai wakil presiden dan yakin bisa menang dalam berpasangan dengan mantan menantu presiden Soeharto, yang juga pemimpin orde baru, Prabowo. Perbedaannya adalah mengapa Gibran melakukannya tanpa dukungan PDIP? Hal ini karena Gibran ingin menghindari label sebagai "boneka" partai seperti yang sering melekat pada ayahnya.

"Senjata Makan Tuan" Bagi PDIP

Meskipun belum ada konfrontasi terbuka, elit PDIP dapat dipastikan merasa kecewa terhadap Jokowi dan keluarganya. Mereka mulai mengingatkan kepada publik mengenai jasa-jasa politik yang telah diberikan oleh Jokowi dan keluarganya. Istilah-istilah seperti pengkhianat, lupa akan asal-usul, kurangnya rasa hormat, dan ketidakbersyukuran akan dilekatkan pada Jokowi dan keluarganya. Namun, PDIP masih mempertimbangkan tindakan lebih lanjut, karena menyerang Jokowi secara terbuka pada saat ini mungkin akan lebih merugikan daripada menguntungkan. Elit PDIP semakin bingung, sementara Jokowi dan keluarganya terlihat santai menikmati proses politik bersama politisi politik dan pimpinan partai yang senang mengejek (APS).

Sikap dan tindakan Gibran bisa dianggap sebagai kritik terhadap sistem demokrasi internal PDIP dan juga menjadi pukulan keras serta peringatan bagi PDIP untuk berubah dan beradaptasi dengan zaman. Elit PDIP perlu melepaskan sistem feodalisme dan pengabdiannya pada individu tertentu. Penggunaan istilah "tegak lurus" dan "demokrasi terpimpin," yang selalu digaungkan oleh PDIP, telah kehilangan makna karena tindakan Gibran. Perlakuan khusus yang diberikan PDIP kepada Jokowi dan keluarganya kini menjadi bumerang bagi partai itu sendiri. PDIP mungkin harus mengakhiri karier politik kader-kadernya demi mencapai ambisi dinasti politik dan kekuasaan putra sulung Jokowi, Gibran, dan menantu Jokowi, Bobby Afif Nasution, yang juga maju sebagai calon walikota.

Akhyar Nasution, Walikota Medan petahana (kader dan Wakil Ketua DPD PDIP Sumatera Utara), dipecat dan dianggap pengkhianat oleh elit PDIP demi memberi jalan kepada menantu Jokowi, Bobby. Hal yang sama berlaku untuk Achmad Purnomo, yang sebelumnya dipilih sebagai calon walikota Solo, namun kemudian harus menerima bahwa putra mahkota Jokowi, Gibran, akan maju sebagai walikota Solo. Purnomo menolak tawaran jabatan di Pemerintah Pusat oleh Jokowi, sementara Akhyar Nasution memilih untuk melawan dengan mencalonkan diri sebagai lawan dari menantu Jokowi dalam Pilkada kota Medan.

Perlakuan berbeda yang diberikan PDIP pada anggota partai, baik itu anggota keluarga, kerabat, atau kolega, juga sering terjadi pada anggota partai lain. Banyak kader yang berjuang untuk memajukan partai akhirnya ditinggalkan oleh elit PDIP demi kepentingan kelompok tertentu. Partai terlihat hanya dimiliki oleh pengurus dan kelompok elitnya, sehingga kader-kader yang tidak menduduki posisi dalam struktur partai tidak memiliki akses ke informasi, kegiatan, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan partai.

Di sisi lain, pengkhianat dari partai-partai lain seringkali diterima dengan baik oleh PDIP. Bahkan kader yang sebelumnya dipecat dari PDIP dan kemudian pindah ke partai lain, menjadi lawan politik PDIP, kini kembali sebagai elit PDIP. Oleh karena itu, pengkhianatan yang dilakukan oleh Gibran adalah hasil dari sikap elit PDIP yang telah mematikan karier politik kader-kader yang berjuang membesarkan partai, namun tidak mendapatkan penghargaan, bahkan dicap sebagai "pengkhianat" oleh elit PDIP.

Dengan atau Tanpa Jokowi: Hattrick

Pemilu pertama pasca reformasi, tahun 1999, PDIP, yang merupakan kelanjutan dari PDI (partai hasil fusi PNI, Parkindo, Partai Katolik, Partai IPKI, dan Partai Murba), berhasil menjadi pemenang pertama. Pada Pemilu kedua, tahun 2004, PDIP menjadi pemenang kedua, dan pada Pemilu 2009, PDIP kembali menjadi pemenang kedua. Pemilu 2014 (sebelum Pilpres), PDIP menjadi pemenang pertama, sementara pada Pemilu 2019 (bersamaan dengan Pilpres), PDIP menjadi pemenang pertama lagi. Fakta ini menunjukkan bahwa kemenangan PDIP dalam Pemilu tidak hanya bergantung pada calon presiden. Kemenangan tersebut ditentukan oleh kemampuan PDIP untuk meyakinkan rakyat bahwa partai ini adalah saluran aspirasi dan suara rakyat.

Jika PDIP ingin meraih hattrick, yaitu memenangkan Pemilu (Pileg dan Pilpres 2024) untuk ketiga kalinya, seperti yang terjadi pada Pemilu 2014 dan 2019, baik dengan maupun tanpa Jokowi, maka PDIP harus melaksanakan langkah-langkah berikut:

Pertama, PDIP, sebagai kelanjutan dari perjuangan PDI yang merupakan hasil fusi dari PNI, Parkindo, Partai Katolik, Partai IPKI, dan Partai Murba, harus lebih jujur terhadap sejarahnya. Gambaran wajah dari semua tokoh deklarator fusi harus dipertahankan dalam berbagai kegiatan partai. Selain untuk menghormati jasa-jasa mereka, ini juga bertujuan untuk meyakinkan bahwa PDIP adalah rumah bagi berbagai aliran dan ideologi politik, bukan hanya rumah bagi satu aliran atau ideologi tertentu.

Kedua, PDIP harus kembali menegaskan dirinya sebagai partai yang mewakili rakyat biasa. Kader-kader yang ingin bertarung dalam Pemilu 2024 (Pileg, Pilpres, Pilkada) harus berinteraksi lebih langsung dengan rakyat, mendengarkan aspirasi mereka, dan bergerak ke lapisan masyarakat bawah. Para kader PDIP harus bersedia untuk menghadapi tantangan dalam politik, merasakan sukacita dan kesedihan bersama rakyat, dan tidak menganggap politik sebagai alat transaksional yang hanya melibatkan uang dan sembako.

Ketiga, PDIP harus menjunjung tinggi prinsip bahwa partai ini adalah milik bersama seluruh rakyat Indonesia, bukan milik individu, keluarga, kelompok, atau golongan tertentu. Oleh karena itu, segala bentuk eksklusivitas dan keangkuhan elit partai harus diakhiri. Manajemen partai harus lebih transparan untuk menunjukkan bahwa PDIP adalah lembaga publik yang mewajibkan pengelolaan program dan dana partai yang transparan. PDIP perlu yakin bahwa transparansi akan meningkatkan partisipasi.

Keempat, istilah "petugas partai" sebaiknya hanya digunakan untuk kegiatan internal partai yang bersifat tertutup. Penggunaan istilah ini untuk menggambarkan kader yang menjabat sebagai pejabat publik, seperti bupati, walikota, gubernur, bahkan presiden, sebaiknya dihindari, karena dapat menimbulkan reaksi negatif dari publik.

Kelima, PDIP harus mengadopsi strategi politik yang membangun hubungan daripada menghukum. Partai harus membuka diri sebesar mungkin untuk menarik dukungan sebanyak mungkin orang agar bergabung dengan pasangan Ganjar-Mahfud (GaMa). PDIP memilih untuk membangun koalisi partai yang lebih ramping, tetapi ini juga berarti PDIP perlu membangun koalisi yang lebih besar bersama rakyat.

Keenam, PDIP harus menggerakkan seluruh mesin partai untuk memenangkan Pileg dan pasangan GaMa dalam Pilpres dengan peran dan tanggung jawab yang jelas. Kader-kader yang mencalonkan diri di Pileg harus fokus pada perannya sebagai calon legislatif. Pengaturan tim nasional dan daerah harus diserahkan kepada kader-kader yang tidak mencalonkan diri sebagai calon legislatif. PDIP harus membangun kekuatan dengan memusatkan visi partai namun memberikan kebebasan untuk berinisiatif secara lokal.

Ketujuh, elit PDIP harus melepaskan egoisme pribadi, baik itu untuk kepentingan keluarga, kerabat, anak, istri, menantu, atau kelompok mereka sendiri, terutama bagi kader-kader yang bertarung dalam Pileg 2024. PDIP harus kembali menghidupkan semangat gotong royong bersama rakyat untuk meraih kemenangan dalam Pemilu 2024.

Kedelapan, kemenangan hattrick dalam Pemilu (Pileg dan Pilpres) 2024 hanya dapat dicapai oleh PDIP jika semua kader PDIP dan pasangan GaMa memiliki keselarasan antara kata dan tindakan. Kejujuran dan keterbukaan kepada rakyat menjadi sangat penting di saat rakyat telah kehilangan kepercayaan pada partai politik dan penyelenggara negara serta pemerintahannya. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali kepercayaan rakyat adalah dengan berhenti mengabaikan kepentingan rakyat.

Sutrisno Pangaribuan
Kader PDIP
Presidium GaMa Centre
Presidium Kornas
Editor: Budi

T#g:CawapresPolitisi PDIP
CRYPTO
Berita Terkait
  • Selasa, 04 Jun 2024 11:04

    Jika Hasto Dikriminalisasi, Kader PDIP Siap Bergerak!

    Hasto Kristiyanto memberi teladan sebagai ksatria politik dan benteng demokrasi dengan memastikan hadiri pemanggilan Polda Metro Jaya, Selasa (4/6/2024). Wawancara pada stasiun televisi nasional menja

  • Jumat, 05 Apr 2024 15:25

    Siapa Bermain di Parkir Medan?

    Pemerintah Kota (Pemko) Medan (kembali) melakukan pencitraan dengan pernyataan “menggratiskan biaya parkir di seluruh lokasi yang tidak menerapkan sistem elektronik parking (e-parking) atau konv

  • Minggu, 25 Feb 2024 08:45

    Caleg Dapil III Wong Chun Sen Raih 12.205 Suara

    Tim pendukung dan pemenangan calon legislatif nomor urut 2 Drs Wong Chun Sen Tarigan MPd B dari daerah pemilihan tiga (III) senang mendengar dukungan mereka membuahkan hasil yang memuaskan, pasalnya d


Bonnet Sleeping Double Sensyne Extendable Wireless Compatible Android Children Camcorder Silicone JBL Tune 510BT Ear Headphones
girl underwear 1 girl underwear 2 girl underwear 3 girl underwear 4
tiktok rss yt ig fb twitter

Tentang Kami    Pedoman Media Siber    Disclaimer    Iklan    Karir    Kontak

Copyright © 2013 - 2024 utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

⬆️