Korea Selatan merupakan salah satu negara yang mendedikasikan tujuan nasionalnya untuk menjadi eksportir budaya pop terbesar di dunia. Ini juga menjadi instrumen kebijakan luar negerinya berbasis pendekatan lunak atau soft power, yakni melalui budaya.
Fenomena Hallyu dimulai pada dekade 90-an, di mana film inspiratif yang diproduksi media popular di kawasan, Swiri yang menceritakan sejarah Korea Selatan dan Korea Utara sukses beredar dan diterima oleh masyarakat lintas kawasan.
Ekspansi fenomena ini terus berlanjut ketika film lainnya seperti Autumn in My Heart (2000), My Sassy Girl (2001), dan Winter Sonata (2004) beredar di kawasan Asia. Fenomena ini menjadi fenomena kultural terbesar di kawasan Asia yang pertama kali beredar di China dan Jepang, kemudian semakin meluas dan menguat ke Asia Tenggara, dan beberapa negara di seluruh dunia.
Proses dan porgres Korean Wave selalu bergulir dengan dinamis. Berdasarkan Jang dan Paik (2012) Korean Wave dapat berisi mulai dari drama televisi, film, musik populer (K-pop), tari modern (B-boys), video game, makanan, mode, pariwisata, dan aksara (Hangul). Sejak akhir 1990-an hingga sekarang, Korea Selatan telah mampu menyebarkan jaring budayanya ke wilayah Asia lainnya seperti Timur Tengah, dan bahkan menjangkau benua lain seperti Amerika, Afrika, dan Eropa.
Kemudian, pada masa pemerintahan Presiden Lee Myung-Bak, pemerintah Korea Selatan berfokus pada peningkatan citra nasional mereka dengan menekankan pada peningkatan diplomasi budaya dan publik beriringan dengan meningkatkan persepsi internasional kepada negara Korea Selatan dan merek atau branding nasional.
Proses yang panjang ini masih berprogres hingga sekarang pada era globalisasi dan teknologi tinggi, Korean Wave menyumbangkan banyak andil untuk Korea Selatan. Salah satu contoh yang paling kongkret adalah Pesek (2019) mengatakan bahwa sensasi K-pop yang sedang diproduksi BTS dengan dengan lagu-lagu hit menyumbangkan $4,65 miliar untuk produk domestik bruto Korea Selatan. Selain itu, Buchholz (2019) menjelaskan dalam grafiknya bahwa di antara perusahaan dan variabel lain dalam pendapatan Korea Selatan, pendapatan Samsung memberikan 13,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Selatan, kemudian Hyundai 5,3%, LG 3,4%, KIA 2,9%, Korean Air 0,7%, dan BTS boyband fenomenal dengan 0,3% atau $ 4,65 miliar.
Hal ini dapat menggambarkan walaupun belum sesignifikan Samsung dalam menyumbang pendapatan, tetapi dua intrumen Korean Wave seperti Korean Air dan BTS secara langsung memberikan input yang positif bagi pendapat Korea Selatan. Samsung dan perusahaan lain yang ada di daftar tersebut memang tidak menjadi ujung tombak bagi Korean Wave secara aktif, tetapi mereka tetap mendukung dan saling memberikan pengaruh pada Korean Wave, seperti iklan Samsung dengan BTS atau girlband Blackpink digunakan untuk promosi produk Korea Selatan di berbagai medium. Terlebih dengan hadirnya globalisasi yang masif pada berbagai sektor, termasuk hiburan dan industri, kesempatan untuk melepaskan gelombang Korea dapat lebih lebar lagi.
Globalisasi telah memberikan dampak besar dalam berbagai aspek kehidupan di seluruh dunia. Hampir setiap negara di dunia saat ini telah mengalami globalisasi. Korea Selatan telah menjadi salah satu negara di dunia yang mampu menggunakan peluang dan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan kebudayaannya melalui globalisasi dan kemajuan teknologi. Globalisasi dan kemajuan teknologi telah memicu Korea Selatan untuk memperkenalkan budaya kpop-nya di dunia. Keberhasilan Korea Selatan dalam mengembangkan kebudayaan popnya di dalam era globalisasi melalui kemajuan teknologi pun tidak lepas dari peranan pemerintah Korea Selatan itu sendiri.
Maka dari itu dapat dikiaskan bahwa Korean Wave atau Hallyu adalah kekuatan sosial atau Social Forces Korea Selatan. Menurut Cox (1981) Social Forces atau kekuatan sosial itu terdiri dari ide, institusi, dan kapabilitas materi yang salih berhubungan satu dengan yang lain. Oleh karena itu Korean Wave (K-pop) sebagai kekuatan sosial dapat dianggap sebagai ide yang tercetus dari kapabilitas (dana keuangan) Pemerintah Korea Selatan dalam mengembangkan dan mengemas budaya populer melalui sebuah institusi yaitu Kementerian Budaya Korea Selatan.
Komposisi yang ada di dalam struktur yang akan digunakan pada analiss ini tersusun dari ide Korean Wave, kemampuan materi atau kapabilitas keuangan, dan institusi, yaitu Kementerian Budaya Korea Selatan dan kebijakan Pemerintah Korea Selatan lainnya yang mendukung Korean Wave. Setiap penyusun komposisi yang ada di dalam struktur tersebut memiliki hubungan saling terkait dan saling memengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Hubungan antar tiga penyusun ini di dalam struktur bisa menciptakan sebuah keterkaitan sehingga dapat menyusun sebuah sistem struktur seperti halnya kebijakan atau diplomasi Korean Wave.
Media yang berkembang pun sangat dimanfaatkan oleh Pemerintah Korea Selatan dalam mengemas budaya populer Korea. Media, dalam hal ini merupakan salah satu perwujudan dari kemampuan materi Korea Selatan, yang kemudian dijadikan salah satu medium oleh Pemerintah Korea Selatan dalam pengaplikasian Korean Wave sebagai instrumen untuk menciptakan Global Korea.
Pemerintah Korea Selatan dengan peka dan sigap memanfaatkan ruang-ruang media dan menyajikannya kepada pemegang kepentingan dalam sektor industri dengan budaya populer Korea sebagai komoditas, seperti hiburan/entertainment dan pariwisata. Oleh karena itu, Korean Wave dapat dijadikan kekuatan sosial yang baik dengan integrasi yang kompak antara kempuan materi atau kapabilitas negara dan tatanan yang dihadirkan negara Korea Selatan guna menciptakan tujuan sesuai visi dan misi Global Korea.
Universitas Kristen Indonesia