Pembelajaran Indonesia dalam kondisi darurat; Apakah lebih akurat memakai Pembelajaran terbaru?
Medan (utamanews.com)
Oleh: Martua Reynhat Sitanggang Gusar, S.Pd. M.Pd. (Dosen Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar)
Kamis, 07 Mei 2020 20:47
Pandemi Covid-19 atau sering dikatakan virus Corona, telah menyerang sebagian bahkan seluruh dunia termasuk Indonesia, dan hal tersebut berdampak kepada seluruh warga Indonesia.Virus Covid-19 yang pertama sekali muncul di kota Wuhan pada bulan Desember 2019 di sebuah kota di negara Republik Tiongkok, telah berkembang dan menyebar ke seluruh negara. Di Indonesia virus ini masuk di awal bulan Maret 2020.
Merespon hal ini, Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayan sebagai Stakeholder yang langsung terkait menangani covid-19 di dalam bidang pendidikan, menerbitkan surat edaran kepada pemerintah daerah untuk melakukan pembelajaran secara online atau daring untuk kalangan siswa-siswi dan bahkan mahasiswa.
Namun sejumlah institusi pendidikan menemukan beberapa kendala dalam proses belajar mengajar secara daring akibat pandemi Covid-19 ini. Mereka menyampaikannya kepada Komisi X DPR-RI untuk menemukan solusinya. Anggota Komisi X DPR-RI, Dr Muhammad Kadafi, mengakui kendala yang dialami sejumlah sekolah memang tak dapat terhindarkan.
"Kondisi kita yang sedang dalam darurat kesehatan berdampak ke sejumlah sektor lainnya. Dibutuhkan kerjasama yang kuat semua pihak dalam mencari solusinya. Sebagai contoh, para guru dan murid yang terbiasa dalam pola belajar mengajar tatap muka mendadak belajar secara online. Sementara, tidak semua daerah memiliki kestabilan jaringan internet sehingga para guru dan murid harus kreatif adalah solusinya. "Saya sangat mengapresiasi guru dan murid yang kreatif dalam masa-masa pandemi Covid-19 ini," kata Kadafi.
Sementara di perkotaan yang jaringan internetnya lebih lancar juga tak sepenuhnya nyaman. "Di dunia maya ada pula hacker yang mengintai merusak proses penggunaan aplikasi belajar mengajar. Jadi seperti saya katakan bahwa kerjasama adalah yang paling penting," katanya.
Pelaksanaan yang kini telah dilakukan oleh pemerintah daerah untuk melakukan pembelajaran secara online bukan hal mudah untuk dipahami kebanyakan siswa/siswi bahkan kalangan mahasiswa yang sangat jenuh dengan hal ini. Banyak alasan yang dikeluarkan kaum muda yang bersekolah atau menimba ilmu di suatu perguruan tinggi menganggap pembelajaran daring di rumah sangat membosankan dan menjenuhkan. Bahkan mahasiswa seperti di suatu perguruan tinggi swasta yang ada di Sumatera Utara menyatakan sangat menyesalkan kenapa di pertemuan tatap muka kami tidak belajar dengan serius.
Berdasarkan analisa dari berbagai hal di atas tentu kesigapan kita sebagai Guru dan Dosen terdepan untuk mencerdaskan anak bangsa perlu membutuhkan media pembelajaran terbaru atau berinovasi baru dari kaum guru dan dosen untuk memberikan stimulus yang baru agar respon di kalangan siswa dan mahasiswa bisa tercapai di dalam masa pandemi yang menyerang Indonesia saat ini.
Seperti semboyan pendidikan yang dikatakan bapak pendidikan, "ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani". Penjabaran dari semboyan tersebut adalah, (1) Ing Ngarso Sung Tulodo : Dilihat dari asal katanya, maka ing ngarso sung tuladho itu berasal dari kata ing ngarso yang diartikan di depan, sung (lngsun) yang artinya saya, dan kata tulodo yang artinya tauladan. Dengan demikian arti dari semboyan ki Hajar Dewantara yang pertama ini adalah ketika menjadi pemimpin atau seorang guru dan dosen harus dapat memberikan suri tauladan untuk semua orang yang ada disekitarnya. (2) Ing Madyo Mbangun Karso : Dari asal katanya, maka Ing Madyo Mbangun Karso berasal dari kata Ing Madyo yang diartikan di tengah-tengah, Membangun yang memiliki arti membangkitkan dan karso yang memiliki arti bentuk kemauan atau niat. Dengan demikian makna dari semboyan Ki Hajar Dewantara yang kedua ini adalah seorang guru dan dosen di tengah-tengah pandemi ini serta kesibukannya diharapkan dapat membangkitkan semangat terhadap peserta didiknya. (3) Tut Wuri Handayani : Dari asal katanya, Tut Wuri Handayani, dirangkai dari kata tut wuri yang memiliki arti mengikuti dari belakang da kata handayani yang memilki arti memberikan motivasi atau dorongan semangat. Dengan demikian semboyan ki Hajar Dewantara yang ketiga ini memiliki makna bahwa seorang guru dan dosen diharapkan dapat memberikan suatu dorongan moral dan semangat kepada peserta didik dalam masa pandemi ini dengan tetap semangat belajar.
Dari semboyan beliau lah terciptalah semangat berpendidikan yang tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah seharusnya guru dan dosen di Indonesia memberikan dampak positif dalam hal pembelajaran terhadap bangsa Indonesia. Karena, di tangan para guru dan dosen nasib para penerus generasi bangsa.
Dari penjelasan di atas mengenai pembelajaran daring belum kondusif karena menurut siswa/siswi bahkan mahasiswa menganggap pembelajaran seperti itu sangat menjenuhkan dan lebih memilih pertemuan pembelajaran tatap muka, yang langsung diajarkan oleh Guru atau Dosen di dalam kelas, serta Guru dan Dosen yang kreatif lah yang memegang peran dalam masa pandemi ini dan menjalin kerjasama yang baik antara siswa/mahasiswa, serta orangtua mereka masing-masing.