Sejumlah tokoh agama menyesalkan adanya bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid saat gelaran deklarasi mendukung Anies Baswedan menjadi Presiden 2024-2029 yang digelar oleh Majelis Sang Presiden, Rabu (8/6) lalu.
Ketegangan juga sempat mewarnai dalam kegiatan yang diselenggarakan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan tersebut.
Adalah, Surya Saputra, Ketua Kajian Islam Kaffah, yang menegaskan bahwa bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid bukanlah milik kelompok tertentu.
"Bendera Tauhid yang bertuliskan kalimat Tauhid bukanlah milik kelompok tertentu, melainkan bendera tersebut adalah bendera Rasulullah SAW yang juga milik kaum muslimin di seluruh dunia," tegas Surya Saputra saat dikonfirmasi awak media, Sabtu (11/6) kemarin.
Sebagai seorang tokoh agama, Surya Saputra juga dengan tegas mengatakan hal itu merupakan suatu fitnah yang keji kepada HTI dan FPI.
"Ini merupakan fitnah keji kepada HTI dan FPI yang amat berat. Ingat!! Hisab_ nya di hari kiamat nanti," kata Surya Saputra dengan nada tegas.
Senada, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Kota Binjai, Sanni Abdul Fattah, juga ikut menyoroti adanya bendera dengan kalimat Tauhid yang berada diatas Panggung, sehingga deklarasi yang dilakukan tersebut berujung menimbulkan polemik.
"Perlu diingat bahwa Bendera Tauhid yang bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Ilallah itu adalah benderanya Ummat Islam dan bukan bendera milik salah satu ormas atau banyak ormas. Bukan juga Bendera HTI atau FPI. Bendera Tauhid sudah ada semenjak di zaman Nabi Muhammad SAW, serta merupakan panji panjinya Rosulullah," tegas Sanni, Minggu (12/6).
Sebagai Ketua GNPF Ulama Kota Binjai, Sanni mengaku khawatir karena saat ini masyarakat banyak yang menilai bahwa bendera bertuliskan kalimat Tauhid itu adalah milik salah satu Ormas.
"Tentunya kami khawatir karena sekarang ini masyarakat terkesan menilai bendera Tauhid adalah milik salah satu ormas atau katanya milik ormas yang sudah dilarang oleh Pemerintah. Saya menilai ini penggiringingan opini publik sehingga nantinya ummat Islam apatis dengan bendera tauhid itu. Padahal itu benderanya umat Islam," tegas Sanni dengan nada kesal.
Diakui Sanni, dengan terpasangnya bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid berdampingan dengan Sangsaka Merah Putih dalam acara deklarasi itu, pihaknya menjadi curiga terhadap aksi dukungan Capres yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya Majelis Sang Presiden.
"Mengapa harus ada beberapa bendera tauhid di atas panggung itu. Apakah ini sengaja untuk mengkait kaitkan Anies didukung oleh kelompok kelompok radikal karena didalam acara itu terkumpul eks napiter , eks FPI dan juga eks HTI, sehingga nantinya ummat akan menjauhi Anies karena didukung oleh kelompok radikal radikul sebagaimana yang selalu didengungkan oleh rezim ini," ungkapnya dihadapan awak media.
Dugaan lainnya diikutkansertakan bendera Tauhid dalam deklarasi mendukung Anies Baswedan menjadi Presiden 2024-2029 menurut Sanni dikarenakan akan mendekati Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. "Apa karena sudah mau masuk tahun Pemilu sehigga berbagai cara dibuat oleh pihak pihak kotor dan pembenci untuk menjatuhkan lawan politiknya," urainya.
Dengan adanya orang orang eks Napiter, eks FPI dan eks HTI dalam deklarasi tersebut, menurut Sanni hal itu menjadi lengkap jika nantinya akan ada penggiringan opini publik bahwa Anies Baswedan didukung oleh kelompok radikal radikul sebagaimana yang selalu dijual kesana kemari oleh rezim ini.
"Menurut kami hal itu sudah jelas bahwa deklarasi itu hanyalah settingan para pembenci Anies. Itu adalah deklarasi Abal Abal," tegas Sanni diakhir ucapannya.
Dilansir dari beberapa media di tanah air, acara deklarasi mendukung Anies Baswedan menjadi presiden 2024-2029 yang digelar oleh Majelis Sang Presiden di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan pada Rabu (8/6) kemarin, sempat diwarna ketegangan sehingga menyisakan kejanggalan.
Sejumlah panitia sempat meminta bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid diturunkan dari panggung deklarasi. Sebab, bendera yang kerap dikaitkan dengan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu sebelumnya terpasang berdampingan dengan Sangsaka Merah Putih.
Bahkan, beberapa orang tokoh ikut terlibat dalam deklarasi tersebut, seperti Habib Musallam Bin Muhammad (Eks FPI) Habib Syaref Abdullah Alhadad (Eks FPI) Ust. Zaenal Muttaqin (Eks Napiter) Ust. Ahmad Jaki (Eks FPI) Ust. H. Abdulah Gadir (Eks FPI) Usman Adnan (Eks HTI) serta Muhammad bin Anwar Marta (Eks FPI).
Sedangkan yang menjadi nara sumber media dalam konferensi pers acara deklarasi tersebut, adalah Habib Alif Akbar Bin Abdurahman Al Yamani (Eks FPI) Habib Ali Zainal Abidin Assegaf (Eks FPI) Ust. Wandi Supandi (Eks Napiter) Ust. Kartono (Eks Napiter) Ust Syahroni (Eks FPI) dan Zainal Abidin (Eks HTI).