Sebab, kata Jokowi, hal ini akan mengakibatkan polarisasi atau perpecahan sosial dalam masyarakat.
Hal itu diungkapkan Jokowi dalam Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam Sidang Tahunan MPR-RI bersama DPR dan DPD RI, hari ini Selasa (16/8/2022) di Kompleks Parlemen.
“Tahapan pemilu yang dipersiapkan KPU harus kita dukung sepenuhnya. Saya ingatkan, jangan lagi ada politik identitas. Jangan ada lagi politisasi agama. Jangan ada lagi polarisasi sosial," kata Presiden, Selasa (16/8/2022).
Jokowi juga mengingatkan agar agar konsolidasi nasional kian diperkuat agar demokrai kian dewasa.
"Demokrasi kita harus semakin kian dewasa. Kosolisidasi nasional harus diperkuat," sambungnya.
Setelah itu, Jokowi berterima kasih kepada para ulama dan tokoh bangsa.
Kepada mereka pula, pria kelahiran Solo 21 Juni 1961 itu berterima kasih atas kontribusi mempertahankan Republik.
"Dan terima kasih kepada ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh kebudayaan yang telah berkontribusi besar memperkokoh fondasi kebangsaan kita. Serta merawat persatuan dan kesatuan Nasional," paparnya.
"Saya juga harap dukungan dari semua lembaga negara, untuk jaga dan mebangun demokrasi kita ini. untuk memperkokoh ideologi bangsa," paparnya.
Presiden Joko Widodo sendiri saat pidato menggunakan pakaian adat dari Bangka Belitung.
Pakaian adat dari Bangka Belitung disebut juga baju paksian.
Baju adat paksian yang digunakan Presiden Jokowi berwarna hijau, lengkap dengan hiasan ikat pinggang dan hiasan bahu.
Pada bagian depan pakaian terdapat manik-manik berwarna keemasan dan memiliki motif "pucuk rebung".
Motif tersebut melambangkan kerukunan, sementara warna hijau dipilih karena mengandung filosofi kesejukan, harapan, dan pertumbuhan.