Indonesia mengusung tema 'Recover Together, Recover Stronger.' Pemilihan tema ini tak lepas dari pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak dua tahun lalu, dan sampai sekarang pandemi itu belum sepenuhnya berlalu.
Lewat tema ini, Indonesia ingin mengajak seluruh bangsa dan negara di dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan. Covid-19, sebagai pemicu terjadinya pandemi global, tak bisa diatasi sendirian oleh suatu bangsa dan negara. Semua harus bersatu, saling mendukung, dan pulih secara bersama-sama.
Bersamaan dengan itu, Indonesia juga perlu menonjolkan kelebihan nilai-nilai yang dimiliki, terutama nilai yang terkandung di dalam dasar negara Pancasila. Karena Indonesia dalam posisi ideal untuk memainkan perannya dalam tataran global.
KTT G20 itu juga merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan Indonesia dalam kancah global, guna menjawab berbagai tantangan internasional.
Beberapa indikator yang dimiliki Indonesia sehingga layak untuk memimpin, antara lain adalah pertumbuhan ekonomi yang signifikan, nyaris tidak adanya kekerasan politik dibanding negara-negara G 20 lainnya, hingga hubungan antar rakyat Indonesia terbilang harmonis.
Menurut Ketua FUI Tanjungbalai Ustadz Indrasyah, hal-hal itu bisa ditawarkan sebagai model hidup dalam kebersamaan dalam tataran global. Di Indonesia praktiknya lebih menonjolkan nilai kebersamaan daripada perbedaan.
"Semuanya terkandung di Pancasila, rumus yang bersifat lintas bangsa. Dan saya menilai bahwa Indonesia sukses mencegah dan menangani kekerasan-kekerasan yang berbau identitas, terutama agama dan etnis. Politik dan nilai-nilai identitas di Indonesia bisa dibilang moderat. Cara mengelola kompleksitas keindonesiaan cukup baik dan berhasil," ujar Ustadz Indrasyah, Minggu (13/11).
"Saya juga berharap dalam KTT G 20 Pemerintah Indonesia untuk lebih berani memperlihatkan jati diri dan berperan di level global agar dunia bisa mengambil nilai-nilai baiknya. Apalagi Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga, dengan jumlah penduduk yang besar, juga punya keberagaman etnis," katanya.
Seharusnya Indonesia sudah bisa menjadi panutan dunia, karena yang dibutuhkan saat ini adalah peran para pemimpin dunia untuk menekan ego untuk bersama mengatasi resesi dunia, karena KTT G 20 kali ini diwarnai situasi dunia yang kurang menguntungkan. Antara lain situasi global pasca pandemi, gangguan geopolitik, resesi ekonomi, bahkan termasuk perang Rusia dan Ukraina.
Butuh respon yang dinamis untuk semua masalah itu, dan dalam KTT G20 tersebut menjadikan Indonesia terdepan untuk menyelesaikannya. Tentunya dengan tidak melupakan kepentingan nasional, yang juga harus menjadi perhatian Pemerintah Indonesia, untuk mewujudkan pemulihan ekonomi yang inklusif, berdaya-tahan, dan berkesinambungan.
"Dan yang terakhir saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Tanjungbalai untuk mendukung dan menyukseskan penyelenggaraan KTT G20 pada 15-16 November 2022 ini," pungkasnya.