Dilihat Utamanews.com, pada hari Kamis (06/10), sepanjang badan jalan milik pasar rakyat tersebut digenangi air berwarna hitam bercampur lumpur. Dimana genangan air itu berasal dari luapan drainase yang tersumbat akibat dipenuhi sampah yang sudah membusuk dari berbagai jenis, yang baunya sangat menyengat.
Pasar Rakyat Tanjung Morawa, Deliserdang
utamanews/M. Dalimunthe
Salah satu pedagang, Iwan (42) mengatakan, kondisi pasar rakyat Tanjung Morawa ini sudah bertahun lamanya rusak parah. Namun, hingga saat ini pemerintah setempat sepertinya tidak perduli seolah dibiarkan saja begini.
"Bertahun-tahun sudah begini, tapi dibiarkan saja. Kerap kali kami mengeluh, namun sampai sekarang tidak ada respons. Dampaknya sangat terasa bagi kami, pengunjung tidak mau datang, mereka memilih beralih ke pedagang di luar yang memakai badan jalan protokol", terang Iwan.
Sementara, Juli (40), pedagang lainnya juga mengatakan, saat ini pengunjung enggan untuk masuk ke pasar ini. Sebab, selain becek dan kotor, aroma bau busuk tercium dimana-mana.
"Coba perhatikan mana lagi jalan yang bisa dilalui, semua genangan air berwarna hitam bercampur sampah membusuk. Jangankan manusia, hewan aja jijik mungkin lewat sini", kesal Juli.
Menurutnya, pasar rakyat ini kan tempat berkunjungnya ratusan ribu penduduk Tanjung Morawa untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, kenapa pemerintah tidak peka akan hal itu?
"Hampir mencapai 250 ribu jiwa yang terbagi di 25 Desa dan 1 kelurahan penduduk Tanjung Morawa, belanja ke pasar rakyat ini. Ironisnya, kondisi pasarnya seperti ini, apa tidak malu mereka? Apa kerja mereka selama in? Inilah Pasar paling buruk di Deliserdang mungkin di seluruh Sumatera Utara", ucapnya.
"Saat ini kami pedagang sudah tidak tahu mau mengadu kemana, besar harapan kami pemerintah kabupaten Deliserdang buka mata atas masalah ini," ungkapnya.
"Besar harapan kami pemerintah mau mendengar keluhan para pedagang di pasar rakyat Tanjung Morawa ini. Sudahlah ekonomi masyarakat melemah dampak kenaikan BBM, ditambah kondisi pasar yang makin memburuk, imbasnya semakin hari omset penjualan kami terus menurun. Sementara kami punya tanggung jawab buat biaya anak sekolah dan nafkah sehari-hari," keluhnya.