Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Ummahatul Mukminim, Batang Kuis- Deli Serdang, Ustad Zulfan Effendy Nababan menanggapi respon negatif terhadap pengumuman hasil perolehan suara rekapitulasi suara Pilpres 2019.
Ia mengatakan bahwa 'people power' lebih banyak mudharatnya sehingga tidak semua ulama setuju dengan adanya gerakan people power karena ajaran agama juga mengajarkan bagaimana menghilangkan mudharat.
"Tidak semua ulama setuju dengan adanya people power, apalagi diikuti oleh nafsu yang begitu menggebu-gebu. Seharusnya kita duduk bersama karena dalam agama juga ada musyawarah. People power lebih banyak mudharatnya, padahal ajaran agama juga mengajarkan bagaimana menghilangkan mudharat dan membuang penghalang dan duri sekecil apapun", tuturnya di Medan, Selasa (21/5/2019).
"Semoga menjelang tanggal 22 Mei ini, dengan kuasa Allah SWT semua akan baik-baik saja. Mari kita berdoa bersama-sama untuk para pemimpin, baik dari 01 dan 02 dan juga masing-masing pendukungnya agar lebih memberikan kesejukan," ujar Ustad Zulfan Nababan.
Dikatakannya, sebagai warga Indonesia sebangsa dan setanah air dan bersaudara, pastinya semua ingin kebaikan, ketenangan, aman dan nyaman. "Tak akan ada warga negara ini, khususnya warga Sumut yang menginginkan ketidak-baikan, bahkan orang jahat sekalipun masih mengharapkan suasana baik. Oleh karenanya harus tetap dijaga. Dengan izin kuasa Tuhan yang Maha Kuasa semoga Republik Indonesia tetap kondusif", tambahnya.
"Bahkan orang di luar negeri sana merasa cemburu dengan Indonesia yang aman, damai penuh kekeluargaan serta mempunyai alam yang indah, dan kekayaan alam yang berlimpah serta memiliki tanah yang subur. Mereka mengatakan Indonesia sebagai miniaturnya surga di dunia. Untuk itu mari lah kita jaga bersama-sama sebagai putra putri bangsa keadaan yang aman, tentram dengan penuh kekeluargaan yang didasari kasih sayang ini", ajaknya.
Tidak lupa Ustadz Zulfan berpesan agar di bulan Rahmadhan yang penuh berkah ini, semua umat mampu menahan nafsu dan memperbanyak silaturahmi karena Nabi Muhammad SAW juga tidak suka perang.
"Maka kita berharap kepada Ulama, hendaknya dapat menjadi air di tanah yang kering, kalau bukan ulama yang memberikan kesejukan lalu siapa lagi?" ungkapnya.
"Perbedaan pendapat atau jika merasa kecolongan hendaklah menggunakan jalur yang sudah disediakan dengan melaporkannya ke Bawaslu dan MK. Jangan disebar ke sana-sini sehingga dapat menimbulkan fitnah, apalagi sampai saling mencaci. Semua persoalan dapat diselesaikan, dengan cara duduk bersama dan bermusyawarah seperti ajaran Nabi yang disampaikan kepada umatnya," pungkas Ustadz Zulfan.