"Fenomena yang terjadi di Parpol baru baru ini di tubuh PAN. Pertanyaannya, PAN itu elitnya berselancar kemana?! Padahal basis masanya itu mendukung Anies. Saya menilai Ini bentuk perlawanan Daerah terhadap Pusat yang seringkali kebijakannya tidak mengakomodasi aspirasi Daerah. Contohnya Rakerda DPD PAN Lamongan misalnya dalam rakerda merekomendasikan Anies sebagai Capres," ungkap Heri Dani saat dikonfirmasi awak media, Selasa (4/10).
Begitu juga dengan PPP. Heri Dani menilai bahwa elit Partai besutan Muhammad Mardiono, yang saat ini dipecaya sebagai Pelaksana tugas (Plt) Ketum PPP, cenderung tidak menyerap aspirasi kader kadernya di Daerah.
Tidak hanya itu, pria yang juga menjadi Dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Sumatera Utara ini menilai, Partai yang menjalankan amanah dengan baik, sejatinya bersikap demokratis. Bukan pemaksaan kehendak karena ambisi kekuasaan.
"Lihatlah PPP, pada Pilpres yang lalu akibat ambisi elitnya mendukung Ahok, maka suara partainya menjadi tergerus. Mestinya kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi PPP maupun Parpol lainnya supaya berhati hati dalam menentukan sikap, apalagi berkaitan dengan Pilpres. Jangan karena kepentingan orang per orang, akhirnya partainya yang dijadikan korban," tegas Heri Dani Lubis.
Patut diduga, ungkap Ketua MD KAHMI Kota Binjai ini, salah satu keragu raguan Parpol yang masih malu malu mendukung Anies Baswedan dikarenakan Anies saat ini dipanggil Komidi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait urusan formula E.
Sebagai tokoh masyarakat, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua KPU Binjai ini juga menegaskan, saat ini sudah banyak ahli hukum yang mengemukakan analisis hukum. "Kenapa Anies Baswedan tidak mungkin terjerat KPK".
Sebab dalam pekerjaan tersebut, lanjut Heri Dani, tidak ada unsur unsur pidananya, sehingga harus dihentikan karena tidak ada bukti bukti perbuatan Pidana.
"Saran saya, KPK jangan bermain main dalam hal penegakan hukum. Sebagai lembaga penegak hukum, KPK harus menegakkan hukum selurus lurusnya, bukan jadi alat kekuasaan. Apalagi rumor di media, issue memenjarakan Anies berhembus kuat seolah mau ditargetkan," demikian ungkap Heri Dani Lubis, sembari menambahkan, kalau issue terse benar, berarti KPK mau menggali kuburan buat dirinya sendiri.