Sabtu, 02 Mei 2026

Viral! Marga Naipospos Keberatan Dugaan Perambahan Hutan Dolok Imun

Taput (utamanews.com)
Oleh: Winner Simanungkalit Minggu, 25 Sep 2022 11:35
Tampak puncak Dolok Imun sudah gundul setengah
 utamanews/Winner Simanungkalit

Tampak puncak Dolok Imun sudah gundul setengah

Dolok Imun suatu perbukitan ditumbuhi kayu Pinus yang dulunya sangat lebat, namun sekarang sangat disayangkan sudah gundul terlihat secara kasat mata dari jauh.

Perbukitan ini terletak diantara tiga kecamatan, yakni Sipoholon, Siborong-borong dan Pagaran, dan empat Desa, yaitu Hutaraja Hasundutan, Lumban Tonga-tonga, Sibaragas dan Lumban Motung di kabupaten Tapanuli Utara provinsi Sumatera Utara.

Dan, dipercayai oleh marga Naipospos (Bagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Lumban Batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol) bahwa Dolok Imun adalah tempat tinggal Naipospos, nenek moyangnya.
Hal ini ditandai adanya monumen kuburan yang terletak di puncak Dolok Imun tersebut, dan juga acara kumpulan Marga Naipospos berulang kali dilakukan di lokasi Dolok Imun. Yang terakhir dilaksanakan pada tahun 2008 lalu, karena saya (penulis) ikut pada acara tersebut, juga saya warga Desa Hutaraja Hasundutan.

Dari informasi sumber masyarakat sekitar, didapat keterangan bahwa bukit ini mengeluarkan air panas di sekitarnya. Dan dulunya pada tahun 1980-an, bukit ini masih tumbuh beberapa tanaman kayu yang merupakan habitat alaminya. Dan, di tahun 1980an melalui program pemerintah, Tentara dan masyarakat melakukan penanaman bibit pohon Pinus, yang saat ini, hutan Pinus ini sangat bermanfaat kepada masyarakat. 
Viral!!! adanya video dengan akun Feri Situmeang, kemudian di suatu group dengan akun Alimson Hutauruk Media sosial Facebook, menayangkan adanya penebangan kayu Pinus besar-besaran, menggunakan alat mesin tebang dan alat berat Beko, juga pekerja yang diduga berjumlah kurang lebih puluhan di areal kuburan nenek moyangnya marga Naipospos.
Di video disebut yang bertanggung jawab atas penebangan kayu Pinus tersebut adalah Maya Situmorang, pengusaha kayu bulat Pinus, yang merupakan warga kecamatan Sipoholon kabupaten Tapanuli Utara.

Hal ini menimbulkan opini dan tanggapan mengenai legalitas hutan ini. Disebabkan, penebangan kayu Pinus ini sudah meresahkan masyarakat sekitarnya. Dikarenakan, hutan yang merupakan tangkapan air yang baik, sudah mulai tampak gundul.

Hal ini disuarakan masyarakat Desa Hutaraja Hasundutan bermarga Bagariang pada musyawarah desa di kantor Desa Hutaraja Hasundutan Sabtu (24/09). Bapak yang berumur sekitar 60 an ini menginginkan lingkungan Dolok Imun tetap terjaga baik.
produk kecantikan untuk pria wanita

Ia juga menginginkan tidak ada lagi gangguan tangan manusia yang menebangi kayu Pinus tersebut.

"Kami,yang berada dekat Dolok Imun ini, mulai resah dikarenakan hutan mulai gundul. Yang saya ketahui, bukit ini aktif berapi yang diperlihatkan dengan adanya mata air panas di sekitarnya. Dan, kami juga membutuhkan hutan ini sebagai tangkapan air untuk kehidupan dan lahan pertanian kami", terangnya di forum musyawarah desa Hutaraja Hasundutan.
Dari keterangan kepala Desa Hutaraja Hasundutan, Mangampu Nababan, bahwa awalnya terjadi penebangan ini disebabkan adanya permintaan pembukaan jalan ke areal pemakaman Nenek Moyang marga Naipospos.

iklan peninggi badan
"Warga datang kepada saya membawa usulan pembukaan jalan ke pemakaman Nenek Moyangnya marga Naipospos. Secara spontan saya menanggapi baik, dikarenakan saya tidak mau terkesan menghalangi niat baik warga. Juga, melalui forum ini saya perjelas bahwasanya saya tidak ada mendapatkan keuntungan atas usulan warga untuk pembukaan jalan tersebut", terang kepala desa di depan warga dan marga Naipospos di luar warga Desa Hutaraja Hasundutan yang ikut musyawarah tersebut.
musyawarah di desa Hutaraja Hasundutan
Musyawarah antara masyarakat, aparat desa dan pengusaha di kantor desa Hutaraja Hasundutan, Sabtu (24/9)
Di awal musyawarah desa Hutaraja Hasundutan tersebut, pengusaha yang bertanggung jawab atas penebangan kayu Pinus di sekitar monumen Marga Naipospos Maya Situmorang, menerangkan, kaitannya menebang kayu Pinus tersebut adanya permintaan warga Desa Hutaraja Hasundutan untuk membuka jalan ke areal pemakaman Nenek Moyangnya marga Naipospos.

"Saya diminta warga Desa Hutaraja Hasundutan, untuk membuka jalan ke areal pemakaman Nenek Moyangnya marga Naipospos. Saya menuntut operasional pembukaan jalan tersebut kepada warga, namun mereka mengatakan kepada saya 'minyak na pangoreng na' (mirip perumpamaan sambil menyelam minum air). Dan, saya meminta tanggapan dari pihak KPH XII, agar tidak terjadi kesalahan", ungkap Maya Situmorang pengusaha kayu Pinus tersebut di forum musyawarah desa Hutaraja Hasundutan.

Sampai rapat musyawarah desa Hutaraja Hasundutan selesai, warga yang diduga Ramot Marbun yang menggagasi pembukaan jalan tersebut tidak hadir.

Padahal sebelum dimulainya musyawarah, warga tersebut sudah dihubungi melalui nomor selulernya.
Dari hasil Musyawarah desa Hutaraja Hasundutan, UTAMANEWS mendapatkan beberapa poin keputusan musyawarah desa Hutaraja Hasundutan.

1. Meminta kepada Ramot Marbun yang dikenal Si Birong (warga yang meminta pembukaan jalan), untuk memberikan klarifikasi tentang usulan pembukaan jalan makam Nenek Moyangnya marga Naipospos.

2. Meminta kepada kepala desa Hutaraja Hasundutan, untuk melakukan rapat/musyawarah kepada Desa-desa yang berada dekat Dolok Imun, untuk mendapatkan kepastian areal atau batasan wilayah hukum desanya masing-masing.

3. Memberhentikan sementara penebangan kayu Pinus, yang berada di Dolok Imun, dan untuk tidak mengangkut kayu yang ada di lokasi penebangan kayu Pinus tersebut.
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️